Ada yang tiba-tiba terlintas dalam benak. Ingin rasanya saya tuangkan dalam deretan kata-kata yang menjadikannya nyata. Tapi suasana sedang tidak berkompromi. Diantara hasrat yang mengelora untuk tetap menikmati waktu untuk sendiri. Saya menemukan banyak makna sesudahnya. Bayangan-bayangan itu serasa memaksa otak untuk menjadikanya nyata....*agak menyedihkan sebenarnya. Mengingat waktu kini semakin cepat, bukan lagi melambat.......*ketakutan tak berpondasi. Bukankah seharusnya menjadi kegembiraan atau setidaknya inilah yang saya tunggu?....*tidak semudah itu
Hingga akhirnya sebuah kisah terpendam dalam benak yang tetap memberontak untuk dilahirkan.......*agak melelahkan menahannya. Tapi masih ada hal lain yang masih jadi prioritas dalam kehidupan saya.....*mengendalikan emosi
Menulis adalah berjuang, itu yang aku pahami. Aktivitas menorehkan ide-ide lewat tulisan ternyata adalah sebuah perjuangan, perjuangan untuk senantiasa berbagi.

Diposting oleh H45 di 17.33 0 komentar
Ketika waktu tak lagi menanti
Ketika harap tak jua berganti
Iringi desiran hati berbisik
Penuhi warna imajinasi
Saat tersadar waktu berganti
Penuhi asa yang kian pasti
Harapan dan doa pun terpatri
Mengisi hidup tuk kebahagiaan hakiki

Diposting oleh H45 di 17.26 0 komentar
apa yang diterjemah dari hujan? senyap dan senyap
kenangan dicipta dari dingin, sepotong raut
melambailah engkau dari lampau yang biru
dari gerai rambut, mata bercahaya, ......
tak henti-hentinya, berkelindan, terajut dalam
perca bertaut,
hai, apa kabar?
hujan begitu gaduh katamu,
tapi ia adalah suaramu, begitu merdu
suaramu, dalam senyap
hatiku
selasa,08 sept 2009

Diposting oleh H45 di 13.49 0 komentar
Dimanakah letak ukhuwah?
Apakah ketika kita sedih maka ada saudara-saudara disamping kita setiap saat?
Apakah ketika kita gundah maka ada saudara-saudara disekitar kita yang mampu untuk mengerti?
apakah ketika kita menangis maka ada saudara-saudara disekitar kita yang akan hapus lara itu?
Ya, ukhuwah memang menawarkan hal itu
Ya, ukhuwah memang menjanjikan hal tersebut
Tapi apakah kita akan menjadi lemah ketika hal tersebut ternyata tak seindah impian?
Tapi apakah kita akan menjadi lelah dan larut dalam kesedihan berkepanjangan?
Tapi apakah kita akan menuntut orang lain untuk tunaikan kewajiban?
Tapi apakah kita akan kalah dalam keterbatasan?
setiap kita pasti pernah merasakan lemah
Setiap kita pasti pernah merasakan gundah
setiap kita pasti pernah merasakan sedih
ukhuwah memang cara ampuh untuk bantu percepat kesembuhan semua itu
Tapi..
Jangan,
jangan berharap kasih
jangan berharap pengertian
jangan berharap perhatian
jangan berharap kemudahan
jangan mengharapkan semua itu pada manusia dengan dalih persaudaraan
berharap kepada manusia hanya akan membuat kita kecewa..
Mungkin itu adalah ujian dari-Nya
agar kita tak lagi menuhankan selain Ia
bahwa mungkin kita terlalu bersandar kepada manusia dan melupakan
bahwa Ia lah yang menggenggam seluruh jiwa
yang mengikatkan semua hati-hati kita
Mintalah petunjuk dari-Nya tentang ukhuwah..
dan niscaya engkau akan mendapatkannya..
“dan Dia(Allah) yang mempersatukan hati(orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua(kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana” (Al-Anfaal: 63)
Ia adalah tentang hati-hati yang terikat
tentang do’a-do’a yang rumit kait mengait
Ia rumit, namun nyata dalam ungkapan sederhana
Ia rumit karena ia adalah iman yang merupa makna
Dari Hudzaifah.org, dalam surat Al Hujurat (QS 49) Allah SWT memaparkan 7 kiat bagi kita untuk menangkal virus-virus ukhuwwah yang bisa menghancurkan shaf ukhuwwah yang telah dibina:
1. Tabayyun
mencari kejelasan informasi dan mencari bukti kebenaran informasi yang diterima (QS 49:6)
2. ‘Adamus Sukhriyyah
tidak memperolok-olokkan orang atau kelompok lain(QS. 49:11)
3. ‘Adamul Lamz
tidak mencela orang lain (QS. 18:28)
4. Tarkut Tanabuz
meninggalkan panggilan dengan sebutan-sebutan yang tidak baik terhadap sesama muslim (QS 49:11)
5. Ijtinabu Katsirin minadzdzan
Pada dasarnya seorang muslim harus berbaik sangka terhadap sesamanya, kecuali jika ada bukti yang jelas tentang kesalahan tersebut (QS 49:12)
6. Adamut Tajassus
tidak mencari-cari kesalahan dan aurat orang lain (QS 49:12)
7. Ijtinabul Ghibah
Ghibah sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah SAW adalah menceritakan keburukan dan kejelekan orang lain. Ketika seseorang menceritakan kejelekan orang lain, maka ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, jika yang diceritakannya benar-benar terjadi maka itulah ghibah. Kedua, jika yang diceritakannya itu tidak terjadi berarti ia telah memfitnah orang lain. Begitu besarnya dosa ghibah, sampai Allah SWT menyamakan orang yang melakukannya dengan orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri
Karena pada dasarnya give and give.. Ketika kita merasakan kecewa dengan kesendirian, tanyalah kembali kepada hati.. Apa yang sudah kamu berikan sehingga layak untuk mendapatkan??
Saudara kita bukan ahli pembaca pikiran orang lain, jika memang membutuhkan sesuatu, maka beritahulah..
Karena sulit menemukan yang seperti Imam Syafi’i di masa kini.. yang menangis ketika ada saudaranya yang meminta bantuan.. yang beliau berkata “tidak seharusnya saudaraku meminta langsung padaku, padahal nampak jelas dari matanya membutuhkan bantuanku”

Diposting oleh H45 di 13.57 2 komentar









